Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5

 oleh : Rijal Mumazziq

Ada dua Amir Khan di dunia. Pertama, Amir Khan petinju Inggris, kedua, Aamir Khan, bintang Bollywood. Nama pertama dikenal sebagai petinju Inggris eksentrik di era 1990-an, seangkatan tapi beda kelas dengan Nasim Hameed, petinju keturunan Yaman itu. Yang kedua, yang akan saya ulas sedikit, adalah Aamir Khan, dengan dua “A” untuk membedakan dengan Amir yang awal. Yang pasti, keduanya sama-sama muslim.


Saya tahu kualitas akting Aamir Khan yang ciamik usai menikmati “Mann” (1999), film bagus yang dia bintangi bersama Manisha Koirala. Bagi saya, “Mann” adalah salah satu film terbaik yang didukung kualitas lagu-lagu yang enak dinikmati telinga.

Seusai membintangi Mann, sebatas pengetahuan saya, Aamir Khan lebih banyak menyibukkan diri para proyek film-film “serius”, bukan film asmara sebagaimana yang dia bintangi di era 1990-an, seperti Qayamat Se Qayamat Tak, Dil, Akele Hum Akele Tum, Raja Hindustani, Ghulam, maupun Mann.

Era 2000-an ke atas, Aamir lebih banyak membintangi film yang punya makna lebih dari sekadar tontonan. Proyek pertama yang dia bintangi adalah “Lagaan”. Ini film dengan durasi di atas rata-rata, lebih dari 3 jam, dengan cerita sederhana namun diolah dengan menarik. Bersetting di pengujung abad ke 19, di era penjajahan Inggris, sekelompok penduduk desa miskin di India menolak kenaikan upeti yang dicanangkan oleh penjajah Inggris. Mereka tidak melakukan penolakan kenaikan upeti ini dengan aksi kekerasan, melainkan melawannya dengan sebuah tindakan sportif, yaitu pertandingan kriket melawan orang-orang Inggris. Taruhannya: jika mereka kalah, upeti naik 3 kali lipat, jika menang, pajak tidak jadi dinaikkan. Bagaimana para penduduk desa ini mengkoordinir dirinya, berlatih dengan keras, lalu bagaimana dengan hasil akhirnya? Monggo, silahkan ditonton sendiri. Sekadar catatan, “Lagaan” masuk dalam daftar nominasi film berbahasa asing terbaik di Academy Awards 74 tahun 2001.

Selain “Lagaan”, film yang berkisah perlawanan rakyat India melawan Inggris adalah “Mangal Pandey : The Rising” (2005). Di film ini, Aamir Khan menjadi bintang utama yang memerankan sosok Mangal Pandey, salah satu pejuang kemerdekaan India yang hidup di pertengahan 1800-an. Pandey adalah prajurit Sepoy, serdadu yang mengabdi sebagai tentara Inggris, lalu berbalik arah melakukan pemberontakan terhadap Inggris, hingga akhirnya dia dihukum gantung. Biopic ini menandai kehadiran Aamir Khan setelah absen selama beberapa tahun.

Setelah itu, dia menjadi sutradara sekaligus membintangi beberapa filmnya yang “punya makna” dan tidak sekadar menghibur, seperti “Taare Zameen Par” (2007), yang membuatnya diganjar sebagai sutradara terbaik dalam Filmfare Award. Film ini mengisahkan seorang guru yang berusaha mendidik siswanya yang menderita disleksia. Setelah itu dia membintangi “Ghajini” (2008), yang menjadi salah satu film terlaris, serta “3 Idiots” (2009) yang menjadi film Bollywood paling sukses sepanjang masa. Kesuksesan ini berlanjut saat Aamir Khan membintangi “PK” (2015), dan film terbarunya yang cakep, “Dangal” (2016). Sekadar catatan, dalam kurun 2000-2016, ada beberapa film yang dia bintangi, seperti “Rang de Basanti”, “Fanaa”, “Dhoom 3”, dan beberapa judul lain. Termasuk "Talaash" yang penampilannya sebagai polisi dengan kumis jeleknya cukup mengganggu. Namun bagi saya, “Taare Zameen Par”, “3 Idiots”, “PK” dan “Dangal” adalah yang terbaik. Tak heran jika film-film ini selain mendapatkan penghasilan baik, juga mendapatkan berbagai penghargaan.

Aamir dan Para Petani Miskin

Saya tertarik menyoroti beberapa film yang dibintangi Aamir Khan ini dalam perspektif studi poskolonialisme, madzhab yang dianut oleh cendekiawan kritis India, Gayatri Chakravorty Spivak. Perempuan kelahiran Kalkuta, India, ini turut mengembangkan wacana poskolonial bersama Homi K. Bhaba, cendekiawan Harvard keturunan India. Berangkat dari sini, kita bisa menikmati film-film yang dibintangi Aamir Khan dari persoektif lain.

Dalam pemikiran Spivak, kolonialisme Barat tidak luntur begitu saja. Sebab struktur politik, budaya, ekonomi dan sosial di bekas negara koloninya masih tetap berkiblat pada penjajahnya. Struktur yang menindas ini akan membuat obyek jajahan tidak dapat bersuara, dan tidak bisa menyuarakan gagasannya secara leluasa. Di sinilah, Spivak yang mengusung madzhab “Subaltern Studies” di India berusaha melakukan dekonstruksi agar pihak yang tertindas ini bisa bersuara. Sebutan “Subaltern” menurut Spivak, lebih pas daripada istilah klasik, “Proletar” yang lebih ditentukan menurut logika kapital. Jadi, sejarah proletar berkaitan dengan sejarah kapital. Sementara sejarah subaltern adalah sejarah orang-orang yang terpinggirkan dari latar mana saja: perempuan Timur, komunitas adat, kelompok tarekat, petani, buruh, dan masyarakat tradisional. Subaltern, kata penganut madzhab ini, merujuk pada orang-orang maupun kelompok yang terpotong dari garis mobilitas sosial kelompok elit. Mereka ini pula yang terdesak ke pinggir oleh garis-garis kultural dan pengetahuan yang memproduksi subyek kolonial. Mereka, kata Mas Ahmad Baso dalam “Islam Pascakolonial” (2016: 54), hanya diatasnamakan, dan tidak pernah menyatakan sendiri nama dan suaranya.

Inilah yang coba diusung oleh Aamir Khan, yaitu menyuarakan kaum yang selama ini (di)bungkam. Dia menyuarakan petani miskin yang terjerat upeti mencekik di tengah kolonialisme dalam “Lagaan”, menyuarakan penderita disleksia dalam “Taare Zameen Par”, serta menggemakan ironi petani fakir dalam “Peepli”, dan terakhir menyuarakan keperkasaan seorang pegulat perempuan di tengah kultur misoginis India dan melalui “Dangal”.

Dalam “Lagaan” (Pajak Tanah), Aamir Khan mengajak kita bertamasya ke era tatkala kolonialisme Inggris mencengkeram India. Dia menghadirkan suasana sebuah desa miskin yang penduduknya kompak dan ceria di tengah himpitan upeti yang mencekik. Kebengisan kolonialisme tidak dia hadirkan di layar dengan brutal dan berdarah-darah, melainkan dia sajikan dengan cara yang khas: kemiskinan di sebuah desa yang kering di satu sisi, dengan keglamouran para penjajah, di sisi lainnya. Dengan caranya, Aamir Khan menampilkan kaum subaltern, para petani, yang melakukan perlawanan bukan dengan senjata, melainkan dengan sebuah olahraga. Kriket adalah olahraga yang menjadi alat tawar bagi penduduk desa miskin yang tak tahu bagaimana cara memainkannya, melawan hegemoni Inggris. Jika para petani miskin ini kalah, pajak dinaikkan tiga kali lipat, apabila mereka menang, bebas membayar upeti selama tiga tahun.

Aamir Khan kembali bermanuver dengan mengangkat kisah para petani: kaum subaltern di India, dan tentu saja di Indonesia, melalui “Peepli (Live)” (2010). Kaum penyangga pangan negeri yang justru paling rentan dihajar para mafia. Petani adalah kaum (di)pinggir(k)an dengan beragam problematikanya; bualan pemerintah, jeratan rentenir, mafia pupuk, sindikat yang menghancurkan harga panen, hingga penggusuran tanah semena-mena atas nama pembangunan.

“Peepli” yang diproduseri Aamir Khan bersama istrinya, Kiran Rao, secara satire mengangkat kehidupan para petani miskin India. Natha, petani miskin, dan kawan-kawannya ditipu aparat desa yang membual apabila negara bagian membagi tanah secara cuma-cuma bagi petani yang bunuh diri. Ada juga petani kurus kerontang bernama Hori Mahato yang menjual tanahnya. Dia bukan menjual tanah dengan cara meteran, hektare, maupun satuan luas tertentu sebagaimana lazimnya, melainkan benar-benar menggali tanah sempit yang dia miliki, mewadahinya dalam karung, mengangkatnya ke atas sepeda, lalu dengan tubuh cekingnya mengendarai sepeda anginnya. Kemana? Menjual tanah! Ini gambaran kemiskinan dan ketidakberdayaan yang fatal. Kulit legam, tatapan nanar, tubuh kurus, dan nafas yang terengah saat mencangkul dan mengayuh sepeda, adalah gambaran nestapa seorang petani yang ketika menggali tanah, seolah sedang menggali lubang kuburnya sendiri. Sebuah satire sarkastik yang diusung oleh Aamir Khan sebagai produser dengan tetap mengandalkan ciri khasnya: komikal dan menonjok, seperti yang diusung dalam “3 Idiots” dan “PK”.

Film-film yang dibintangi, disutradarai maupun digarap oleh Aamir Khan memang tidak seartistik dan seanggun gaya produksi Sanjay Leela Banshali, tidak seglamour produksi Yash Raj Chopra, tidak semeriah film-film yang disutradarai Karan Johar, juga tidak semewah garapan Rohit Shetty. Film-film Aamir Khan masih membumi dengan tetap menampilkan dan (bangga) dengan identitas ke-India-annya seperti cirikhas film-film bikinan Ashutosh Gowariker.

Melalui beberapa film yang dia bintangi, dia sutradarai, dan juga dia produseri bersama istrinya, Kiran Rao, Aamir Khan melakukan (semacam) penyuaraan kelompok-kelompok yang selama ini termarjinalkan dan terpinggirkan, maupun tidak didengar jeritannya. Dia tidak melakukan “mimikri”, dalam istilah Homi K. Babha, dengan meniru-niru gaya Hollywood dan kaum Barat dalam tampilan, plot, gaya, hingga setting film. Dia menghindari apa yang disebut oleh Gayatri Spivak sebagai “The Big Other” (yang lain yang besar), yakni manakala Barat menampilkan diri sebagai obyek hasrat ideal bagi pribumi terjajah. Dalam relasi ini, sang pribumi terjajah tidak pede dengan gambaran dirinya sendiri, tapi butuh gambaran orang lain—sang penjajah—untuk memberikan penilaian “modern”, “maju”, “progresif”, dan “kekinian”. Dalam relasi ini, banyak film Bollywood akhirnya melangit dan sama sekali terasing dari kenyataan, sebab dunia yang diusung dalam filmnya sama sekali bukan Delhi dengan kesemrawutannya, Mumbai yang kosmopolit namun menyisakan kekumuhan di pinggirannya, maupun Agra yang eksotik. Yang ditemui malah film-film Bollywood yang bersetting New York, London, Amsterdam, hingga Zurich. Ini yang coba dihindari oleh Aamir Khan.

Pada akhirnya, gaya kebarat-baratan seperti film “Kites” (Hrithik Roshan), “Roy” (Arjun Rampal), “Don” dan “Dilwale” (Shah Rukh Khan), nyaris tidak kita temui dalam film yang digarap Aamir Khan selama satu dasawarsa terakhir. Kecuali “Dhoom 3”, Aamir Khan tetap bergerak dalam aras Hindustan beserta kehidupan kesehariannya. Amerika dan Hollywood yang dianggap sebagai rujukan sahih dalam banyak hal, justru dia hindari. Pada titik ini, kita ingat gaya sutradara Abbas Kiarostami yang tetap bangga dengan corak sinematrografi tradisional Iran dan Akira Kurosawa yang mengusung sentuhan teatrikal Kabuki Jepang dalam berbagai karyanya.

Wallahu A’lam Bisshawab


 ----------------------------

Penulis : Oleh Rijal Mumazziq Z 
Pegiat Komunitas Baca Rakyat Surabaya (KOBAR)
Facebook : https://web.facebook.com/penerbit.imtiyaz 

About BMCI Jatim

BMCI Jatim Adalah Wadah Terbesar Komunitas Bollywood Mania yang berada di Jawa Timur. Tak hanya aktif di dunia maya, BMCI juga aktif di berbagai kegiatan dan even. Karena Kami tak pernah malu mengakui bahwa suka Bollywood
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Post a Comment

Web ini adalah sarana informasi terkini dari BMCI Jatim tentang film, artis, lagu, dan ulasan film bollywood yang telah atau akan beredar di Tanah Air.

Sebuah komunikasi akan lebih hidup jika terdapat interaksi antara pembaca dan Ngadimin BMCI Jatim melalui Komentar di bawah ini.

Karena BMCI Jatim adalah KITA yang tak pernah malu untuk mengakui bahwa kita suka Bollywood.


Top