Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5


 Bersama suaminya yang merupakan saudagar (buku) dari Gujarat, Mas Ach Tirmidzi Munahwan, Mbak Noviana Herliyanti tadi sore berkunjung ke istana saya yang terletak di Raja Ampat (halah!). Pertanyaan yang dilontarkan Mbak Novi adalah, adakah film Bollywood terbaru yang direkomendasikan saya kepadanya? Oh jelas ada, saya jawab. Judulnya “The Ghazi Attack”.

Tapi mohon maaf, ini film nggak ada romantis-romantisnya sama sekali, apalagi lagu di bawah guyuran hujan sambil berlari-lari kemudian mengitari pohon. Ini Bollywood pasca 2005. Sebuah fase yang menandai revolusi Industri film India: keberanian mengeksplorasi jalan cerita, tema, plot yang lebih rumit, special efek yang berlimpah ruah, dan meminimalisir lagu. Kalaupun ada lagu, pasti lagu ngepop, bukan lagu Bollywood yang agak ndangdut. Mungkin era “ndangdut India” dengan cengkok yang khas itu telah berakhir bersama era keemasan para komposer era 1990-an seperti Jatin-Lalit, Nadeem-Shravan, Anu Malik, Uttam Singh, hingga takdir lebih memihak komposer aliran kombinatif yang lebih ngepop seperti AR. Rahman, Pritam, Rajesh Roshan, Shankar Ehsaan-Loy, Vishal-Shekar, dan Sajid-Wajid (silahkan dilihat dalam pemenang maupun nominasi Filmfare Award dalam kurun satu dekade tarakhir).

Perubahan aliran musik ini turut mempengaruhi nasib playback singer. Tak ada lagi suara merdu Udit Narayan, Kumar Sanu, Abhijeet, Sonu Nigam, Babul Supriyo, Lata Mangeshkar, Alka Yagnik, Sunidhi Chauhan, Kavita Khrisnamurthi, Shreya Goshal, Anuradha Paudwal, dan Sadhna Sargham. Yang ada saat ini suara ngepop Arijit Singh, Roop Kumar Rathod, AR. Rahman, Adnan Sami, KK, Rahat Fateh Ali Khan (yang cengkoknya lebih pas menyanyi Ghazal) hingga Antara Mitra. Saat ini, mencari suara merdu generasi emas era Kumar Sanu seperti mencari lagunya Iwan Fals pasca 2012. Oke, soal revolusi playback singer di Bollywood bisa kita diskusikan di lain kesempatan, meskipun sejujurnya sebagai penggemar “ndangdut India” saya merasa ada “ruh” Hindustan yang hilang dari tubuh film Bollywood.

Oke, kita kembali ke bahasan utama, The Ghazi Attack. Bagi saya, ini adalah salah satu film perang terbaik Bollywood. Bukan pada aspek eksyen dan dar-der-dor ala Bollywood era 1990-an di mana satu magasen M-16 maupun AK-47 bisa dihamburkan untuk memberondong puluhan musuh yang berjejer rapi sebagaimana penampilan Sunny Deol maupun Sunnil Shetty.

“The Ghazi Attack” lebih pada aspek thriller psikologis dengan ketegangan di bawah laut, sebab film yang terisnpirasi dari kejadian nyata ini menyuguhkan adegan pertempuran antara dua kapal selam: Karanj S21 milik AL India melawan kapal selam Ghazi milik Pakistan, pada Nopember 1971 di perairan India.

Ghazi, yang dipakai sebagai judul film, adalah kapal selam terbaik milik Pakistan yang ikut andil dalam peperangan di tahun 1965. Enam tahun setelah peperangan itu, kekuatan Ghazi masih disegani oleh AL India. Ketika ketegangan di teluk Benggali meningkat, di mana eskalasi pemberontakan kaum nasionalis Benggali di Pakistan Timur semakin menguat karena ingin memisahkan diri dari Pakistan Barat, maka Ghazi sengaja dikirim ke teluk Benggali, tujuannya antara lain mengamankan pasokan logistik via laut yang dikirim ke Pakistan Timur (yang kemudian menjadi Bangladesh).

Meski harus memutar melalaui perairan Srilanka, jalur laut dipilih antara lain karena mustahil melalui daratan dan udara India yang sangat luas. Kabar keberangkatan Ghazi ke teluk Benggali sebelumnya sudah dicium intelijen AL India yang langsung mengutus Karanj S21, salah satu kapal selam terbaiknya. Fokusnya mengawasi perairan di teluk Benggali yang sebenarnya tidak jauh dari pangkalan AL mereka di Visakhapatnam (tahu daerah ini nggak? Kalau nggak, berarti nasib kita sama. Hahaha). Karanj S21 dikirim dengan tugas melakukan pengamanan dan kontrol di perairan India. Apabila bertemu dengan kapal selam Ghazi, maka petugasnya dilarang melakukan serangan, kecuali setelah ada perintah dari markas besar, sebab resiko eskalasi peperangannya sangat besar. Selama 18 hari kapal selam bertenaga diesel ini berpatroli di bawah laut dengan waspada.

Sebaliknya, meskipun Ghazi diarahkan untuk memberi bantuak logistik kepada pemerintah Pakistan Timur, namun mereka juga mendapatkan perintah rahasia agar menghancurkan INS Vikrant, kapal induk India yang dijuluki “gajah laut”. Sebelum melaksanakan misi penghancuran INS Vikrant, Ghazli terlebih dulu menembakkan torpedo ke kapal kargo India semata-mata untuk mengalihkan perhatian Karanj S21.

Di sinilah drama dimulai. Kapten kapal selam Karanj S21, Rann Vijay Singh, dikenal sebagai perwira keras kepala dan agresif yang mengidolakan Jenderal George S. Patton, panglima pasukan AS di Perang Dunia I. Baginya, kemenangan harus dicapai dengan membunuh, bukan dengan berkorban. Secara psikologis, dia berbeda karakter dengan Arjun Varma, perwira yang menjadi wakilnya. Rann ingin menghancurkan Ghazi, sedangkan Arjun memilih menunggu komando dari mabes AL India. Sebab, menembak Ghazi yang melanggar batas peraian berarti bisa menyulut perang lebih besar. Karena itu dia memilih menunggu perintah.

Detil-detik ketegangan pertempuran bawah laut semakin meningkat ketika secara tiba-tiba Karanj S21, atas perintah Kapten Rann meluncurkan torpedo yang kemudian dibalas oleh Ghazi. Di momen inilah ketegangan sempurna terjadi, karena di tengah adu taktik, Karanj oleng akibat menyenggol ranjau laut yang disebarkan Ghazi. Resiko kapal selam karam harus dialami oleh para kru sebelum kemudian musibah lain datang: sang kapten tewas. Mental yang mulai turun, keterbatasan logistik, posisi kapal selam yang berada 350 meter di bawah permukaan, mesin yang rusak, hingga baterai kapal selam yang hanya cukup untuk bermanuver naik turun, membuat wakil kapten Arjun Varma memutar otak. Dia pertama kali membangkitkan semangat para kru dengan menyanyikan lagu kebangsaan India (tuh, kan, nasionalisme India selalu tampak dalam film-filmnya!), kemudian memperbaiki kapal selam yang compang-camping sembari menunggu Ghazi yang bermanuver lincah. Lalu, pertempuran sesungguhnya terjadi dan seperti biasa lakon utamalah yang menjadi jawara.

-----

Sebatas pengetahuan saya, film eksyen yang bertema kapal selam sangat jarang. Bisa dibilang, dalam satu dekade, Hollywood hanya melahirkan satu karya bertema pertempuran bawah laut. Sampai saat ini pun, film saat ini ada beberapa film bertema kapal selam yang saya tonton, antara lain Das Boot, U-571,The Hunt for Red October, Crimson Tide dan terakhir kali yang saya nikmati, meski kurang bagus, adalah Seaviper, produksi 2012. Semua mengisahkan pertarungan strategi perang, tekanan psikologis awak kapal selam, taktik diplomasi mencegah perang nuklir, hingga menyiasati keterbatasan di tengah laut sembari mempersiapkan diri menyongsong kepahlawanan diri.

Jika Hollywood sangat jarang mengusung film mengenai kapal selam sebagaimana fakta di atas, apalagi Bollywood. Mungkin, “The Ghazi Attack” adalah film pertama yang menyuguhkan peranan kapal selam dalam “kedaulatan” India. Dari sisi pertempuran yang berdarah-darah, “The Ghazi Attack” memang tidak seheroik adegan pertempuran bikinan sineas Hollywood dalam “Das Boot” maupun “U-571”, juga tidak setegang konflik psikis, alotnya diplomasi, dan rumitnya menyusun taktik dalam “Hunt for Red October” maupun “Crimson Tide”, namun kali ini, saya angkat topi pada keberanian sineas Bollywood yang bekerjasama dengan industri film Tamil mewujudkan film perang bawah laut pertama dalm industri film mereka.

Bollywood sering mengangkat konflik dua negara Pakistan-India, India-Pakistan dengan Kashmir sebagai titik tumpu konfliknya, maupun teroris Kashmir (apesnya, yang selalu diceritakan sebagai seorang muslim! Hehe). Border (1997), Dil Se (1998), Refugee (2000), Gadar: Ek Prem Katha (2001), Mission Kashmir (2001), Ma Tujhe Salaam (2002), LOC Kargil (2003), Deewar (2004), Ab Tumhare Hawale Watan Sathiyo (2004), Lakshya (2004), Fanaa (2006), Haider (2014), Baby (2015), dan Phantom (2015), namun saya kira baru kali ini mengangkat pertempuran bawah laut dengan menonjolkan supremasi kapal selam. Lagi pula, biasanya Bollywood lebih suka memfilmkan aksi para prajurit infanteri AD maupun intelijennya, dibandingkan dengan kiprah para prajurit Angkatan Laut. Setidaknya film “The Ghazi Attack” mewakili unsur Angkatan Laut, meskipun sebelumnya sudah ada film “Rustom” yang dibintangi Akshay Kumar, namun titik tumpunya adalah skandal asmara dan pembunuhan yang dilakukan oleh perwira tinggi AL India pada tahun 1950-an.

India dan Pakistan pernah berperang empat kali, 1947, 1965, 1971 dan 1999. Dengan berlatarbelakang permusuhan ini, maka sangat “wajar” apabila para produser Bollywood menjual konflik ini ke arena bioskop. Konflik yang dikemas sedemikian rupa dan disajikan dengan dramatik dengan tujuan komersil, baik dalam kemasan asmara seperti Veer-Zaara (2004), maupun dengan pendekatan simpatik seperti Bajrangi Bhaijaan (2015) dan Peekay (2016)—ketika Sarfaraz digambarkan sebagai pemuda muslim yang terpelajar, baik, dan setia, serta gambaran kedutaan Pakistan yang simpatik dan keren.

WALLAHU A'LAM BISSHAWAB Dari ulasan di atas, benarkah Kapten kapal selam Karanj S21, Rann Vijay Singh, itu merupakan calon mertua Jarjit Singh?

oleh : Rijal Mumazziq Z

About BMCI Jatim

BMCI Jatim Adalah Wadah Terbesar Komunitas Bollywood Mania yang berada di Jawa Timur. Tak hanya aktif di dunia maya, BMCI juga aktif di berbagai kegiatan dan even. Karena Kami tak pernah malu mengakui bahwa suka Bollywood
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Post a Comment

Web ini adalah sarana informasi terkini dari BMCI Jatim tentang film, artis, lagu, dan ulasan film bollywood yang telah atau akan beredar di Tanah Air.

Sebuah komunikasi akan lebih hidup jika terdapat interaksi antara pembaca dan Ngadimin BMCI Jatim melalui Komentar di bawah ini.

Karena BMCI Jatim adalah KITA yang tak pernah malu untuk mengakui bahwa kita suka Bollywood.


Top