Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5

Guru saya, Ustadz Chaerul Anwar, dalam acara pengajian bagi siswa di Musholla Ibnu Rusyd, di MA Al-Islam Joresan Mlarak Ponorogo, kurang lebih 16 tahun silam, menyelipkan cerita apabila film India adalah sinema yang berani dan apa adanya menyajikan realitas politik secara blak-blakan. Menteri korup, aparat kepolisian penerima suap, pejabat yang berkolusi dengan gangster, pengusaha yang menyogok penguasa demi tender, dan busuknya dunia politik lainnya. Plot di atas sedikit menempatkan film Bollywood di atas film bikinan sineas Indonesia yang, saat Orde Baru berkuasa, ceritanya hanya begitu-begitu saja.



Baik, mungkin guru saya sudah lupa pernah menyatakan hal demikian, hehehe, tapi bagi saya apa yang beliau katakan masih relevan hingga kini, khususnya manakala saya menikmati film India. Salah, anda salah, kalau masih menganggap Bollywood hari ini sama dengan era Dharmendra yang dikeroyok massa satu kampung tapi masih baik-baik saja dan justru pengeroyoknya yang babak belur, atau zaman Mithun Chakraborty yang dengan posisi di atas sepeda onthel masih bisa menghajar selusin preman bersenjata tongkat hoki, atau ketika Anil Kapoor menjadi Inspektur Vijay di mana penjahatnya jatuh duluan sebelum dipukul. Tidak, Bollywood dalam satu dasawarsa terakhir lebih berwarna. Bukan lagi dengan plot hitam putih, dan cerita asmara, melainkan lebih dari itu, banyak jenisnya: sci-fi, horror, politik, kriminal, detektif, thriller, biopic, pendidikan, drama-ironi-satire dan sebagainya.


Pertumbuhan ekonomi India yang relatif stabil diiringi dengan kemauan para produser dan sutradara untuk mengembangkan kualitas garapannya saya kira menjadi salah satu faktor yang cukup mempengaruhi daya tarik Bollywood. Ini belum menghitung pola kerjasama para produser Bollywood dengan rumah produksi Hollywood, seperti yang dijalani Aamir Khan dengan Walt Disney dalam “Dangal”, maupun keterlibatan Fox Studios dan Dreamworks dalam beberapa produksi film madzhab Mumbai sebelumnya.

Bandul Revolusi dari Johar

Akhir era 1980-an hingga dasawarsa 1990-an, di saat pamor Rishi Kapoor, Mithun Chakraborty dan Jeetendra ngedrop, bintang kejora dinasti Khan mulai kelihatan. Kuartet Khan: Aamir, Salman, Sakh Rukh, sampai Saif Ali (kemudian menyusul Fardeen Khan bin Feeroz Khan). Mereka bersaing dengan pemilik wajah ganteng berminyak, otot yang mengawat dan bulu dada yang dipamerkan dalam setiap adegan adu jotos: Sunny Deol, Sanjay Dutt, Jackie Shroff, Sunil Shetty dan Akshay Kumar. Ditambah satu orang playboy berkumis tebal: Anil Kapoor. Semua muncul dengan karakternya: baik hati, menang dalam palagan jalanan menghadapi lawan (yang pasti jelek-jelek dan kumuh! hahaha), pembela kebenaran, sayang ibu dan adik perempuan, dicintai dan mencintai seorang gadis, dan jago menari. Plot yang khas! Ini nyaris ditemui dalam film tahun 1990-an. Madhuri Dixit, Juhi Chawla, Manisha Koirala, Raveena Tandon, Karishma Kapoor adalah deretan ratu sinema yang menjadi heroine-nya para hero Mumbai.

Lalu revolusi datang. Shah Rukh Khan, yang biasanya hanya menjadi pemeran pendamping, atau pemeran utama dengan ciri khas alis melengkung di “Darr”, “Karan Arjun”, “Dilwale Dulhaniya Le Jayenge”, tampil dalam revolusi film yang ditabuh sutradara muda, Karan Johar, melalui, ah, anda tahu sendiri lah film yang dibintangi bersama Kajol dan Rani Mukherjee itu.


Mengapa saya sebut revolusi? Karena Karan Johar melakukan sesuatu yang bakal mempengaruhi sinematografi Bollywood selama hampir satu dasawarsa berikutnya: menghilangkan tampilan Mumbai yang kumuh, meniadakan Delhi yang semrawut, mengandangkan mobil Ambassador yang bertuknya mirip VW Kodok itu, tak ada adegan adu jotos dengan lakon--meminjam istilah Cak Mahfud Ikhwan—angry young man, tak ada juga laki-laki dengan otot gagah dan bulu dada yang lebat, juga tak ada polisi India yang buncit, berkumis, dengan seragam coklat dan datangnya telat.

Johar menampilkan sesuatu yang baru: film dengan fashion yang berwarna-warni, glamour, penampilan para aktor yang ke-Barat-Baratan tapi tetap menghormat bendera India, laki-laki yang cengeng (saya kira ini tetap dari dulu!), dan jalinan kisah cinta yang rumit. Dia memadukan kembali chemistry yang melekat antara Shah Rukh Khan dengan Kajol sejak Dilwale Dulhaniya Le Jayenge, yang dengan segera mengobati kerinduan publik India setelah duet Dharmendra-Hema Malini yang telah pensiun, Amitabh Bachchan-Rekha yang pudar, maupun Aamir Khan-Pooja Bhat yang melejit lalu tenggelam. Ya, persis kita yang mengamini kecocokan Nicholas Saputra-Dian Sastro, Reza Rahadian-Bunga Citra Lestari, maupun Si Buta Dari Goa Hantu dengan Kliwon di pundaknya. Hahaha….

Apa yang dimulai Karan Johar dengan segera menjadi tren di Bollywood. Pamer keglamouran, mobil mewah, syuting kebanyakan di Eropa, dan mengisahkan kelas menengah India yang tinggal di Barat, menjadi menjadi tren berikutnya di era 2000-an hinga satu dasawarsa berikutnya. Film “Kabhie Khusie Kabhie Gham”, “Kal Ho Na Hoo”, “Krrishh”, “Kabhi Alvida Na Kehna” dan serial “Dhoom”, antara lain mewakili aspek ini. Setidaknya ini bisa kita lihat dari berbagai film yang dibintangi trio Khan: Shah Rukh, Salman, dan Aamir, maupun Hrithik Roshan dan sebagainya. Semua serba wah—sesuatu yang dimunculkan kembali oleh Rohit Shetty melalui “Dilwale” (2015) dan jeblok di pasaran.

Mungkin dalam kesempatan lain akan saya ulas pengaruh Johar dalam perfilman Bollywood lebih lanjut. Dalam tulisan ini, sejujurnya, saya jatuh cinta pada produk garapan Prakash Jha, baik sebagai sutradara maupun produser. Berbeda dengan gaya Karan Johar dengan sodoran film-film romatis dengan cerita kompleks dan pemandangan indah; Yash Raj yang selalu menampilkan kisah cinta romantis; Ashutosh Gowariker yang realis; Rohit Shetty yang selalu menampilkan corak warna yang fun, mobil mewah dan ledakan dalam berbagai karyanya; Sanjay Leela Bhansali yang menampilkan unsur glamour, klasik, dan tatacahaya yang menakjubkan; penuh special efek seperti karya Rakesh Roshan; plot yang tidak diduga seperti karya Rajkumar Hirani; film dengan sudut padang gelap seperti garapan Nishikant Kamat; hingga garapan Rakeysh Omprakash Mehra yang selalu ada adegan orang mabuk itu, hahaha. Namun, dari sekian banyak sutradara yang saya sebutkan, bagi saya Prakash Jha ini unik.

Sebatas pemahaman saya, Prakash Jha spesialis sutradara maupun produser film bertema politik. Latarbelakangnya sebagai pegiat LSM dan aktivis partai lokal membuatnya memilih berkutat pada isu sosial-politik melalui sinema bikinannya. Ada beberapa karyanya yang sudah saya tonton. Antara lain Mrityudand (1997), Apaharan (2005), Raajneti (2010), Chakravyuh (2012), dan Satyagraha (2013). Semua bertema politik, termasuk yang belum saya tonton: Damul (1984), Gangaajal (2003) Aarakshan (2011). Khusus untuk Dil Kya Kare (1999), saya nonton, tapi ini bukan film intrik politik, melainkan keluarga.

Melalui Mrityudand (1997), Jha mengerek ketidakadilan jender, segregasi kasta dan pandangan minor terhadap perempuan. Dalam Apaharan (2005) Jha menyoroti sistem rekrutmen polisi di negaranya yang korup dan penculikan yang menjadi bisnis terselubung. Sedangkan dalam Rajneeti (2010), dia mengangkat kembali intrik ala Mahabharata dalam konteks perpolitikan modern di India dan silangsengkarut dinasti politik di dalamnya. Sedangkan melalui Chakravyuh (2012), Jha mengangkat kisah kaum Maois yang memperjuangkan ideloginya.

Tapi, bagi saya, Satyagraha (2013) adalah karya terbaik Jha. Tampaknya ada beberapa aktor langganan Jha yang senantiasa dia libatkan dalam berbagai karyanya, termasuk dalam Satyagraha ini: Kareena Kapoor, Arjun Rampal, Ajay Devgan, Amitabh Bachchan, dan Manoj Bajpai (yang selalu jadi lakon antagonis). Kecuali Kareena, keempat pria ini sudah bekerjasama dalam beberapa proyek garapan Jha sebelumnya.

Jha seolah mendobrak kebekuan film-film Bollywod yang terpaku pada pakem asmara, maupun kisah hitam putih antara si kaya dan miskin, antara tuan tanah dengan petani kere, dan kisah klasik lainnya. Dia menerabaskan dengan menggeret hal-hal yang tabu dalam politik tapi benar-benar ada: pengokohan dinasti politik, pengusaha tukang sogok, makelar dalam tender pembangunan fasilitas publik, polisi korup, administrasi yang bobrok dan segala macam hitam putih dunia politik.

Setidaknya ini yang dia angkat dalam beberapa sinema garapannya, yang kemudian dia gabungkan kesemuanya dalam Satyagraha (2013). Sesuai judul yang diambil dari istilah gerakan damai yang dipelopori oleh Mahatma Gandhi puluhan tahun silam, Satyagraha mengisahkan seorang guru tua, Dwarka Anand (diperankan oleh Amitabh Bachhan) yang menggerakkan revolusi di sebuah kita kecil. Revolusi melawan sistem korup yang dibantu pengusaha Manav (Ajay Devgan), aktivis LSM politik yang diperankan dengan apik oleh Arjun Rampal, serta jaringan publikasi yang dimotori oleh wartawati Yasmin Ahmed (Kareena Kapoor). Semua pola kerja politik yang kotor disajikan lengkap dengan berbagai intrik dan tekanan psikologis para penggerak revolusi. Harus diakui, Jha memang jago mengocok plot dalam beberapa karyanya. Sedangkan Amitabh Bachchan, seperti Sean Connery di Hollywood, semakin tua semakin berwibawa dengan aktingnya yang masih jempolan.

Garapan Jha lainnya, Rajneeti (2010), memang bagus, tapi sangat rumit dan kompleks bagi yang belum memahami sitem politik di India maupun jalan cerita Mahabharata. Sedangkan untuk memahami Chakravyuh (2012), minimal kudu mengerti latarbelakang kaum komunis madzhab Mao Zedong ini melakukan perlawanan terhadap pemerintahan India.

Harus diakui, garapan-garapan Jha turut memperkaya wajah sinema Bollywood yang semakin berkembang dengan corak tema yang beragam dalam satu dasawarsa terakhir ini. Khususnya yang berkaitan dengan dimensi sosial politik garapan sutradara lain. Misalnya Rang de Basanti (2007) yang mengisahkan para mahasiswa skeptis yang menempuh jalan para martir di masa lalu, beserta jalinan skandal pembelian pesawat MiG dari Rusia yang melibatkan kementerian pertahanan India, jenderal AU dan para pengusaha impor alutsista.

“Madaari” (2015) mengetengahkan kisah sederhana. Seorang bapak yang menuntut keadilan kepada pemerintah akibat anak kesayangannya tewas dalam peristiwa ambruknya jembatan. Dia nekat menculik anak kesayangan menteri dalam negeri untuk membongkar skandal pembangunan jembatan. Anak yang kehilangan anaknya, menteri dalam negeri yang mementingkan reputasi politiknya dibanding nyawa anaknya, pemborong yang menyogok bendaraha partai agar diberi tender, maupun pemborong yang mengurangi kualitas bahan baku agar bisa mengambil keuntungan. Semua diolah dengan bagus oleh Nishikant Kamat, dan diperankan dengan baik oleh Irrfan Khan, aktor yang saat berakting terlihat sangat alami dan mengalir. Ini sebenarnya film thriller yang dikemas dengan bungkus politik. Kalau film thriller lainnya yang bagus, “Talaash” (2012)-nya Aamir Khan, “Kahaani” (2012)-nya Vidya Balan dan Nawazuddin Shiddiqui, serta “Drishyam” (2015)-nya Ajay Devgan, saya kira pantas diberi nilai A.

Saya yakin, masih banyak film Bollywood bergenre politik yang belum saya tonton. Namun, yang terbaru, “Anna” (2016), saya kira masuk daftar tonton berikutnya. Ini adalah biopic yang mengisahkan Kisan Baburao Hazare alias Anna Hazare, pejuang anti kekerasan yang mempelopori pemogokan massal yang membuat pemerintah India mengesahkan UU Antikorupsi.

Jika politik diartikan Who Get What, How and Why, sebagaimana kata Harold D. Laswell, maka beberapa judul yang saya sebutkan di atas tampaknya layak untuk disebut sebagai film bergenre politik. Dan jenis ini, saya yakin, akan terus berkembang di Bollywood. Resikonya, jumlah lagu semakin minim, kalaupun ada lebih ngepop dengan suara khas penyanyi playback generasi terbaru yang mulai terkerek seperti Kunal Ganjawala, Vishal Dadlani, Arjit Singh, Antara Mitra, dan lain sebagainya yang perlahan-lahan menggeser suara penyanyi playback favorit saya: Kumar Sanu, Udit Narayan, Sonu Nigam, Abhijeet, Alka Yagnik dan Sunidhi Chauhan. Ini yang saya sayangkan, tapi apapun itu, keep calm and humko humise churalo…..

Wallahu A’lam Bisshawab

Ditulis oleh : Rijal Mumazziq Z

About BMCI Jatim

BMCI Jatim Adalah Wadah Terbesar Komunitas Bollywood Mania yang berada di Jawa Timur. Tak hanya aktif di dunia maya, BMCI juga aktif di berbagai kegiatan dan even. Karena Kami tak pernah malu mengakui bahwa suka Bollywood
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Post a Comment

Web ini adalah sarana informasi terkini dari BMCI Jatim tentang film, artis, lagu, dan ulasan film bollywood yang telah atau akan beredar di Tanah Air.

Sebuah komunikasi akan lebih hidup jika terdapat interaksi antara pembaca dan Ngadimin BMCI Jatim melalui Komentar di bawah ini.

Karena BMCI Jatim adalah KITA yang tak pernah malu untuk mengakui bahwa kita suka Bollywood.


Top