Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5

Ditandai dengan era kebangkitan melalui film remaja bergenre komedi-romantis Kuch Kuch Hota Hai, Bollywood kini makin kinclong.

India. Sebuah negeri yang identik dengan perempuan-perempuan berkain sari. Berambut panjang, dengan bola mata bulat dibingkai alis tebal. Kulit hitam namun eksotis dengan tariannya yang aduhai.

Mobil-mobil kuno yang merupakan buatan mereka sendiri. Lengkap dengan kuil-kuil pemujaan untuk dewa-dewa, nyanyian suci, yang berpadu dengan aroma dupa dan wangi kembang. Seperti Bali, India menaburkan hawa religius yang kental. Menguar dalam setiap jalan-jalan dan bangunannya.

Bahkan, karena kekentalan unsur religinya, India menjadi salah satu setting film Eat Pray Love. Di negeri Mahatma Gandhi inilah, Elizabeth, sang tokoh Eat Pray Love, mendapatkan ketenangan batin. Melalui pemujaan dan pembersihan diri. Sejatinya, India tidak hanya menampilkan cita rasa religi. Ada pesona kuat kebudayaan bangsa yang sangat memuja leluhurnya ini. Sehingga mampu menarik banyak turis asing ke sana. Terlebih, India mampu mempromosikan dirinya melalui film.

Dulu. Film India selalu identik dengan Tuan Takur. Polisi yang banyaknya satu batalion dan selalu datang terlambat. kalah dari sang pahlawan. Adegan laga yang sarat baku hantam sampai baku tembak mewarnai setiap adegan film. Dan saat itu, film India tak terlalu dilirik anak muda. Kebanyakan penggemarnya adalah orang-orang tua. Siapa saja yang nonton film India di tahun 90-an akan dimasukkan sebagai mahluk jadul yang nggak keren atau nggak gaul kalau menurut anak sekarang.

India menyadari betul bahwa film-film mereka ketinggalan jaman. Holywood sudah lebih dulu maju di jaman itu. Mereka sudah mulai membuat film-film remaja yang keren. Seperti Never Been Kissed (1999), Belum lagi, thriller pembunuhan seperti Scream (1996) dan I Still Know What You Did Last Summer (1998), sampai Urban Legend (1998), dan pula Spider Man (2002). Lalu sebuah terobosan dilakukan Karan Johar. Menggunakan nama-nama beken di India, seperti Shahrukh Khan, Kajol, dan Rani Mukherjee, terciptalah Kuch Kuch Hota Hai (1998).

Film yang judulnya berarti Telah Terjadi Sesuatu ini, adalah tonggak kebangkitan Bollywood. Sejak Kuch Kuch Hota Hai, makin jarang ditemukan adegan polisi yang menggerebek komplotan penjahat, penampilan garang tokoh-tokohnya. Semua berganti dengan adegan-adegan manis dan romantis. Wajah cantik eksotis dan ganteng khas Asia Selatan menjadi menu utama. Walhasil, wajah baru yang kaya rasa dan bervariasi ini, mampu membuat banyak orang jatuh hati. Apalagi, ditunjang dengan soundtrack film yang enak didengar.

Kuch Kuch Hota Hai saja, tak hanya disukai oleh pecinta film India. Anak-anak muda, yang di masa itu enggan menonton film India dan memilih film-film Holywood mulai menunjukkan rasa penasaran. Promosi melalui soundtrack film yang tayang di stasiun televisi, hingga masuknya OST Kuch Kuch Hota Hai di kanal MTV langsung menyedot perhatian remaja.

Maka, mulailah demam Bollywood. Remaja Tanah Air mulai tak malu-malu melagukan Ladki Badi Anjaani Hai di berbagai event. Sampai ada yang diubah menjadi Bahasa Indonesia pula. Hal yang sama yang terjadi ketika booming Meteor Garden, drama televisi asal Taiwan pada tahun 2002. Penyanyi Yuni Shara sempat menyanyikan OST Meteor Garden dalam versi Bahasa Indonesia.

Begitulah, Bollywood terus menapaki tangga kesuksesan. Sejak Kuch Kuch Hota Hai laris di pasaran, bahkan menghasilkan berbagai penghargaa, salah satunya di 44th Annual Film Fare Awards, Bollywood semakin enjoy memproduksi film-film seperti Kuch Kuch Hota Hai. Kecenderungan ini sebenarnya tidak bagus, karena akan menjebak sineas untuk berada di tempat yang sama. Dengan genre yang sama yang pada akhirnya bisa mendepak kejayaan film-film Bollywood yang saat itu tidak hanya popular di Asia Selatan, bahkan sudah meluas hingga ke seluruh Benua Asia, khususnya di Asia Tenggara, seperti Indonesia.

Untungnya, sineas Bollywood tak mau terus-menerus berada di zona nyaman. Berbagai film terus mereka produksi, tentunya dengan genre yang berbeda. Ada Assoka yang bergenre kolosal, sampai My Name Is Khan dan terakhir Ra-One. Sebuah progress yang membanggakan ketika sebuah karya terus menunjukkan perubahan yang berarti. Hal ini sangat diharapkan terjadi di Indonesia.

Karena, meski sempat mengalami era kebangkitan, sejak adanya film AADC (2002), kondisi perfilman Indonesia tak bisa dikatakan stabil. Khususnya dalam karya sinematografi. Berbagai film yang dihasilkan ternyata masih tidak jauh beda dari film-film nasional sebelum era AADC. Yakni, berpusat di bagian dada dan paha. Unsur seksualitas masih menjadi pokok cerita. Bukan sebagai bumbu penyedap, yang akhirnya justru mengacaukan inti cerita.

Hal-hal kontroversial juga masih menjebak pemikiran sineas-sineas Tanah Air. Seperti masalah transgender, TKI/TKW, kekerasan dalam rumah tangga, orang yang sakit parah, dan masalah-masalah klise lainnya. Beruntung, masih ada yang membuat film-film macam Kyai Haji Ahmad Dahlan, Laskar Pelangi, Negeri Lima Menara, Tiga Hati Dua Dunia Satu Cinta, dan yang terbaru The Raid.

Meski bisa dikatakan bahwa The Raid tak seluruhnya oke, karena sarat dengan adegan sadis. Namun, setidaknya menjadi angin segar setelah meluapnya film-film yang mengumbar sensualitas.

Sebenarnya, AADC tak bisa dibilang seratus persen era kebangkitan film-film Indonesia. Karena sebelumnya, sudah ada Pasir Berbisik dan Daun Di Atas Bantal. Pasir Berbisik yang disutradarai

Nan Triveni Achmas ini memasang nama-nama beken di dunia film tanah air. Seperti Christine Hakim, Slamet Rahardjo dan Didi Petet. Lewat film ini pula, nama Dian Sastrowardoyo mulai dikenal dan akhirnya masuk menjadi bintang film kelas A di Indonesia.

Dian sendiri, sebelumnya sudah membintangi film Bintang Jatuh (2001) karya sutradara Rudy Sudjarwo yang juga menggawangi AADC. Hanya saja, Bintang Jatuh tidak ditayangkan di bioskop melainkan tayang di kampus-kampus. Sama seperti Novel Tanpa Huruf R (2003). Ya begitulah, banyak film Indie dan bagus namun berdana cekak, yang tak mampu tayang di bioskop, tapi sejatinya bisa menjadi sumber inspirasi. Mungkin, sudah saatnya produser tak hanya mementingkan keuntungan sehingga puas dengan film berbahan dada dan paha serta bumbu sensualitas. Mungkin sudah saatnya film-film Indie yang berdana cekak mendapat apresiasi dari produser dan pelaku industry film. Sehingga bisa mendapat kesempatan seperti Lovely Man (2011), yang awalnya tidak tayang di bioskop, namun setelah mendapat penghargan di berbagai ajang lomba film, akhirnya mendapat kesempatan tayang di bioskop.

Film sederhana yang dibuat Teddy Soeriaatmadja ini hanya bercerita tentang pertemuan anak dan bapak yang transgender. Kisahnya juga berlangsung selama satu hari, tepatnya semalam. Sama seperti Eliana Eliana (2002), besutan Riri Riza. Kisah pertemuan Bunda dan Eliana ini juga hanya berlangsung selama sehari semalam. Namun, ada banyak hal yang tersampaikan.

Kalau mau industri perfilman Indonesia ingin maju, tampaknya memang harus berusaha keras. Khususnya keluar dari topic-topik yang sudah biasa. Tak ada salahnya mencontek cara sineas Bollywood agar lebih baik. Sebaik dan secemerlang film-film Bollywood. (Oleh : Elita Sitorini) 

(Redaksi - Tulisan ini pernah dimuat di Kompasiana tanggal 25 Juni 2015)

About BMCI Jatim

BMCI Jatim Adalah Wadah Terbesar Komunitas Bollywood Mania yang berada di Jawa Timur. Tak hanya aktif di dunia maya, BMCI juga aktif di berbagai kegiatan dan even. Karena Kami tak pernah malu mengakui bahwa suka Bollywood
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Post a Comment

Web ini adalah sarana informasi terkini dari BMCI Jatim tentang film, artis, lagu, dan ulasan film bollywood yang telah atau akan beredar di Tanah Air.

Sebuah komunikasi akan lebih hidup jika terdapat interaksi antara pembaca dan Ngadimin BMCI Jatim melalui Komentar di bawah ini.

Karena BMCI Jatim adalah KITA yang tak pernah malu untuk mengakui bahwa kita suka Bollywood.


Top